Kasus Harian Jabar Tembus 1.000, Ridwan Kamil Minta Pusat Tiadakan Libur Idul Adha dan Tunda KBM Tatap Muka

- 15 Juni 2021, 19:20 WIB
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. /Instagram.com/@ridwankamil/

SEPUTAR LAMPUNG - Kasus Covid-19 di sejumlah daerah menunjukkan kenaikan yang cukup mengkhawatirkan. 

Penambahan siginifikan ini diduga akibat libur panjang Idul Fitri kemarin. Banyak rumah sakit rujukan yang penuh.

Kondisi ini membuat sejumlah rencana nampaknya perlu ditinjau ulang untuk menekan kasus Covid-19 yang semakin tak terkendali.

Dua di antaranya yang sudah di depan mata adalah rencana membuka kembali Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tatap muka yang awalnya akan dilakukan mulai tahun ajaran baru nanti.

Baca Juga: Prabowo Gabung Kabinet Indonesia Maju Karena Belajar dari Tokugawa Ieyasu dan Toyotomi Hideyoshi, Siapa?

Tak berjarak jauh dengan waktu rencana KBM tatap akan dibuka, umat muslim akan merayakan hari raya Idul Adha yang jatuh pada 20 Juli 2021.

Meski biasanya tak sesemarak Idul Fitri, banyak masyarakat yang mungkin akan merayakannya sembari berlibur dan pulang ke kampung halaman.

Tak ingin kasus corona semakin meningkat tajam, Gubernur Jabar Ridwan Kamil meminta pada pemerintah pusat agar meniadakan libur panjang pada Idul Adha mendatang.

Hal ini dilakukan demi mengantisipasi sebaran Covid-19 usai kasus corona melonjak akibat libur panjang Idul Fitri.

"Jadi kami dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat merekomendasikan pada Pemerintah Pusat untuk tidak ada libur panjang tersebut," kata Ridwan di Makodam III/Siliwangi di Jalan Aceh, Kota Bandung pada Selasa 15 Juni 2021 sebagaimana dikutip dari Pikiran Rakyat.

Menurut Ridwan selain meniadakan libur panjang, Pemerintah Pusat ‎pun diminta mengeluarkan petunjuk pelaksanaan ibadah Idul Adha.

Baca Juga: Ternyata 10 Selebriti Terkenal Ini Putuskan untuk Tidak Memiliki Anak Seumur Hidupnya, Apa Alasannya?

"Diharapkan dengan begini warga dapat menunaikan ibadahnya namun libur dan mudiknya ditiadakan. Terlebih angka kasus harian di Jabar kini mencapai angka di atas 1.000 sejak bulan Mei lalu," ucapnya.

Padahal, menurut Ridwan tingkat keterisian rumah sakit di Jabar sebelum lebaran dinilai terkendali berada di angka 29 persen.

Kemudian, hanya dalam rentang waktu dua pekan, tingkat keterisian melonjak menjadi di atas 70 persen. Bahkan dua wilayah di Jabar yakni Kabupaten Bandung dan KBB pun masuk ke dalam zona merah Covid-19.

"PPKM mikro kita sebelumnya berhasil hingga hari Salat Idul Fitri. Itu rumah sakit keterisiannya hanya 29 persen namun dalam jangka waktu dua minggu saja tiba-tiba keterisiannya mencapai 75 persen," katanya.

Sementara itu dikarenakan masuk zona merah penyebaran Covid-19, Kabupaten Bandung dan KBB, Ridwan meminta aktivitas ibadah di dua kabupaten tersebut dibatasi. Hal ini sesuai dengan apa yang diinstruksikan Pemerintah Pusat.

Baca Juga: Tahukah Anda? Ternyata, 5 Pekerjaan Ini Dibayar Paling Mahan di Indonesia, Bisa Dapat Rp250 Juta Per Bulan!

"‎Jadi sebaiknya, pelaksanaan ibadah di dua wilayah itu dimaksimalkan dulu dilakukan di rumah hingga tidak lagi masuk ke dalam zona merah," ucapnya.

Disebabkan masuk zona merah Covid-19 ini, Ridwan juga mengimbau dengan tegas agar tidak ada wisatawan dari DKI Jakarta yang datang ke Bandung.

Imbauan ini berlaku hingga satu minggu ke depan hingga pengumuman berikutnya disebarluaskan.

"Khususnya pariwisata yang selalu ramai ada di KBB ramai di Kabupaten Bandung kebetulan zona merah, oleh karena itu saya imbau wisatawan yang biasanya mayoritas dari DKI Jakarta dan sekitarnya tersebut kami minta untuk tidak datang," ucapnya.

Selain lonjakan kasus, menurut Ridwan tingkat keterisian rumah sakit di Bandung Raya sudah berada di angka 84,19 persen atau melebihi ambang batas WHO yang ada di angka 70 persen.

Selain melakukan pengetatan dengan melarang datang ke Bandung Raya, dia pun meminta agar warga di Bandung Raya melaksanakan work from home atau WFH.

"Hadir secara fisik hanya 25 persen sesuai instruksi dari Mendagri dan 75 persen segera menyesuaikan diri untuk bekerja dari rumah dengan pengecualian yang tentu sudah kita pahami," ucapnya.

Baca Juga: Gagal Dapat BPUM 2021? Jangan Khawatir, Pelaku UMKM Bisa Dapatkan Bantuan Rp7 Juta dari Kemenkop UKM!

Sekolah Tatap Muka Ditunda

Masuknya dua wilayah di Bandung Raya ke zona merah Covid-19 pun berimbas pada bidang pendidikan.

Khususnya sekolah tatap muka atau pembelajaran tatap muka (PTM) yang setidaknya sudah dilaksanakan di ratusan sekolah di Kota Bandung pada bulan Juni ini.

"Sekolah tatap muka kita tunda dulu khususnya yang zona merah itu mah pasti tidak boleh," katanya.

Artikel ini sebelumnya telah tayang di Pikiran-rakyat.com dengan judul "Gubernur Minta Libur Idul Adha Ditiadakan, Termasuk Sekolah Tatap Muka Ditunda Karena Lonjakan Kasus Corona".

Adapun di Kota Bandung, simulasi belajar tatap muka secara terbatas sudah mulai digelar di berbagai sekolah.

Tercatat, ada 319 sekolah dari tingkat TK hingga SMA yang menggelar kegiatan belajar tatap muka terbatas di Kota Bandung.***(Mochammad Iqbal Maulud/Pikiran Rakyat)

Editor: Ririn Handayani

Sumber: Pikiran Rakyat


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah